REVIEW: WARLORDS. THE KUOMINTANG, AND NATIONALISM

China, yang bangkit dari tragedy Perang Dunia I bagaikan sebuah paradox antara kekacauan total dan kebangkitan yang mengagumkan . Semenjak wafatnya Yuan Sih Kai pada tahu 1916 hingga 1931, China bertahan menghadapi serangkaian internal warlordsim, menciptakan kesatuan nasional dibawah revolusi Kuomintang , dan berinisiatif untuk membebaskan dirinya dari status semi dependent, seperti layaknya Jepang. Namun yang perlu digarisbawahi adalah, meskipun keduanya mengalami proses revolusi perubahan, namun proses tersebut tidaklah serupa. Pada tahun 1918, Jepang telah mencapai tahapan national-state yang powerful, industrialized, dan memiliki stabilitas ekonomi dan politik yang mapan. Sedangkan China berbeda, ia melalui serangkaian peperangan dan pergolakan politik dalam negeri yang tidak lepas dari konspirasi, faksionalisme, intrik, dan kekuatan para warlord.

Fenomena Warlordism

Saat Yuan Shih Kai wafat pada tahun 1916 dan Li Yuan Hung menjadi presiden, ada upaya-upaya untuk membangkitkan kembali konstitusi negara. Konstitusi asli tahun 1912, yang sebelumny dihancurkan dibangkitkan kembali dan orang-orang dari parlemen republic yang telah dibubarkan sebelumnya dipanggil kembali ke Peking. Namun, era konstitusionlisme China tampaknya berakhir saat pemerintah gagal merumsukan bentuk konstitusi yang sesuai, apakah federalism atau sentralisme.

Pertentangan ideology federalism versus sentralisme sebenarnya mengindikasikan bahwa proses unifikasi China masih menemui hambatan yang berarti. Hal itu juga menunjukkan bahwa sebenarnya pemerintah pusat China masih belum memiliki control politik yang kuat terhadap daerah yang dikuasai para warlord. Kelemahan control politik ini semakin memperjelas superioritas para warlord terhadap pemerintah pusat, dan menunjukkan bahwa sesungguhnya kekuasaan para wrlord ini adalh variable yang harus diperhitungkan dalam system perpolitikan China pada masa itu.

Terbukti, jawaban bagi perdebatan terhadap konstitusi yang legal muncul tidak melalui sistematika deal-deal politik yang terjadi di parlemen, namun dari kekuatan bersenjata para tentara yang dimobilisasi melalui keuasaan para warlord yang sarat dengan kepentingan pribadi masing-masing. Hal tersebut menjadi sebuah pertanda betapa rapuhnya rejim pemerintah China pada masa itu saat memasuki masa transisi dari monarki menuju pemerintahan presidensial maupun parlementer.

Kebangkitan Perjuangan di Selatan

Sejarah Cina Selatan sejak tahun 1917 hingga 1923 tidak bisa dilepaskan dari pergolakan pergolakan politik, terutama Peking. Keadaan tersebut identik dengan apa yang terjadi di Cina bagian Utara, yang sarat dengan pergolakan perebutan kekuasaan yang melibatkan warlord-warlord provinsi yang bertarung demi kepentingan pribadi. Namun demikian, ada perbedaan yang signifikan di Cina bagian Selatan, yaitu keberadaan seorang tokoh bernama Sun Yat Sen dan gerakan revolusinya yang bernama Kuomintang.

Meskipun pada awalnya tidak memiliki kekuatan massa yang signifikan, segera setelah Jenderal Chen Chiung ming (salah seorang pendukung fanatik Sun) berhasil mengalahkan rivalnya dari Kwangsi dan menaklukan Canton, Kuomintang seolah mendapat hembusan angin segar dan kekuatan yang baru dengan terpilihnya Sun sebagai presiden oleh para eksodus dari kabinet Peking yang lama pada tahun 1913. Pemerintahan Canton ini kemudain diklaim sebagi pemerintahan China yang sejati pada masa itu.

Kuomintang Baru

Babak baru dalam revolusi China telah dimulai. Pada periode 1923-1925 Sun memperluas basis kekuasaannya melalui dukungan dari Rusia dan Komunis China, yang menciptakan semangat baru bagi Kuomintang sekaligus menciptakan landasan untuk terbentuknya kekuatan militer dengan basis nasionalisme.

Pada tahun 1921 terbentuk Partai Komunis China, dan Abram Adolf Joffe dikirim oleh Rusia untuk menjembatani dialog pemerintah Peking dengan Kuomintang. Sun bertemu dengan Joffe dan melihat hal tersebut sebagi peluang untuk membentuk aliansi. Pada tahun 1923 keduanya berhasil mencapai kesepakatan bersama. Sun mendeklarasikan gagasannya bahwa tidak satupun dari sistem komunis atau sstem Uni Soviet yang cocok dengan China, sementara Joffe sejalan dengan gagasan Sun, menjamin dukungan penuh dari Rusia untuk unifikasi dan kemerdekaan China secara penuh.

Pada perkembangannya selama dua tahun kemudian, Kuomintang menjadi sebuah partai yang secara struktural bersifat totaliter dan disiplin, meskipun tidak berideologi komunis. Sementara itu, partai komunis china menyatakan dukungannya terhadap Kuomintang pada periode yang sama, dan para individual komunis tetap diizinkan bergabung. Pada Januari 1924, Kongres Partai kuomintang yang pertama terselenggara, menciptakan manifesto yang mendasar dan fraework bagi struktur kepartaian di masa mendatang dan hubungan pemerintahan.

San Min Chu I

Ideologi revolusioner yang dibawa oleh Sun Yat Sen untuk kebangkitan kembali China dikenal sebagai San Min Chu I, atau Tiga Prinsip Dasar Kerakyatan, yang didasarkan dari hasil pemikiran Sun sendiri semenjak tahun 1905. Tiga prinsip dasar tersebut adalah: Min Tsu (Kebangsaan), Min chuan (Kerakyatan), dan Min Sheng (Kehidupan bernegara). Min Tsu dan Min Chuan dimaknai sebagi Nasionalisme dan Demokrasi, sementara Min Sheng dimaknai sebagai terminologi yang variatif, bisa dimaknai sebagai sosialisme dan atau komunisme.

Nasionalisme, Min Tsu

Nasionalisme ala Sun adalah anti Manchu dan menentang pihak asing untuk turut serta dalam pemerintahan China. Segera, konsep ini menjadi konsep yang menyatukan berbagai klan dan suku di dalam kesatuan tunggal. Namun, muncul dilematika perdebatan tentang patrotisme dan bentuk negara yang sesuai guna mengakomodasi kepentingan berbagai dimensi ras dan suku. Sun percaya solusi bagi hal ini tersebut ada pada model negara yang federalis. Namun, perlu dicermati bahwa federalisme ini hendaknya tidak bersifat terlalu terbuka guna menghindari kemungkinan mengeksploitasi kelemahan struktur pemerintahan China dan akesasi dari pihak asing.

Demokrasi, Min Chuan

Ide demokrasi Sun berasal dari 4 sumber utama:

  1. Republikan ala Barat
  2. Doktrin Swiss tentang referendum, pemilihan umum, dsb
  3. demokratik sentralisme ala Soviet
  4. Ideologi China tentang kontrol kekuasaan.

Sedangkan kekuasaan politik akan didistribusikan kedalam 5 divisi: 1) eksekutif, 2) legislatif, 3) yudisial, 4) eksaminasi, 5) kontrol. Proses peralihan transisi kekuasaan ini akan dilakukan oleh Kuomintang selama proses penyatuan kekuatan militer dilakukan.

Min Sheng

Terminologi Min Sheng digunakan untuk menyebutkan suatu konsep pemenuhan kekayaaan yang tidak pernah disusun secara sistematis oleh Sun. Ide dasarnya adalah ekualitas dengan mekanisme kelebihan dari pendapatan individu dalam kepemilikan tanah akan mengalir ke negara untuk diregulasi dan didistribusikan secara lebih merata.

Wafatnya Sun Yat Sen

Sun wafat pada tahun 1925, saat ia hendak ke Peking untuk bertemu Tuan Chi Jui guna mendapatkan dukungan bagi terwujudnya perdamaian dalam proses unifikasi China. Wfatnya Sun menimbulkan dampak luar biasa terhadap Kuomintang dan sistem politik di China. Banyak yang menganggap bahwa sesungguhnya Sun adalah manifestasi fisik dari ideologinya sendiri, seperti halnya Confucius dengan Confucianismenya. Belum ada pemimpin dengan kapasitas yang mampu mensubstitusi peran Sun dalam pergerakan politik di china pada masa itu.

Adapun Kuomintang pasca Sun wafat dilanda rivalitas antara kubu nasionalis dan komunis, antara sayap kanan dan sayap kiri partai. November 1925, golongan sayap kanan setuju melolosakn resolusi yang mengeluarkan golongan sayap kiri dan komunis dari struktur kepartaian

Rivalitas tersebut semakin kentara saat demonstartor Wuhan (Kuomintang sayap kiri dan komunis) melancarkan serangan terhadap konsensi konsensi asing yang sedang dilaksanakan di kota Yangtze dan menuntut Revolusi Sosial. Chiang Kai Shek (suksesor Sun) dan golongan konservatif Kuomintang mengantisipasi dengan mendirikan basis pemerintahan sendiri di Nanking dan melancarkan serangkaian serangan terhadap sayap kiri dan komunis di dataran rendah Yang Tze.

Sementara itu, pergerakan nasionalis di Utara China kian gencar. Mereka mendapatkan dukungan dari para Tuchun dan tokoh tokoh seperti Feng Yu hsiang dan Yen Hsi Shan, yang kelak menjadi salah satu elemen viatl dari kemenangan kamu nasionalis dalam perang unifikasi China.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar