KAPUR DALAM TANAH

Pegunungan kapur banyak terdapat di Pulau Jawa. Walaupun kurang subur, tetapi memiliki fungsi sangat strategis. Batuan kapur banyak dimanfaatkan manusia untuk bahan bangunan dan juga pertanian. Sebagai bahan bangunan kapur digunakan sebagai penimbun khususnya tanah kapur, sebagai pondasi bangunan khususnya batu kapur, untuk barang kerajinan dan keramik khususnya batu marmer dan sebagai bahan campuran adonan semen.

Alam dan manusia telah menyebarluaskan kapur dari sumber batuan kapur ke seluruh bumi. Kapur memiliki sifat basa yang tinggi sehingga banyak digunakan petani untuk menurunkan keasaman tanah. Dengan fungsi ini banyak petani menggunakan dolomit untuk disebar di lahan. Selain itu, manusia berkemungkinan membantu menyebarluaskan secara tidak sengaja ke permuakaan bumi lewat penggunaan batu kapur untuk berbagai keperluan.

Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium dan magnesium tanah. Hal ini wajar, karena keberadaan kedua unsur tersebut sering ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah. Perlu diketahui bahwa tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi, belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. bisa terjadi suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya

Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol, rendzina, dan ultisol. Bahan induk pada tanah alfisol ialah kapur dengan jeluk air sekitar 50 m. Adapun bahan induk pada tanah vertisol ialah kapur dan gamping. Kemudian pada tanah rendzina bahan induknya juga kapur, karena pengangkatan karst. Bahan induk tanah entisol dan ultisol berturut-turut ialah abu vulkan serta konglomerat dan breksi.

Kanbdungan Ca dan mg yang tinggi dalam tanah berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut, semakin kuat pelindian / semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral atau agak kalis. Sebagai unsur hara makro Ca dan Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun dinding sel tumbuhan dan sering pula menjonjotkan / menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman. Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat perkembangan normal pad jaringan muda.

Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi. Dalam percobaan ini dilakukan analisis kapur dengan menggunakan metode gravimetric yang dikenal dengan penetapan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. CO2 yang menguap dalam penentuan kapur akan diukur menurut reaksi :

CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + H2O + CO2

Perbedaan kadar kapur pada berbagai jenis tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain komposisi bahan induk dan iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi. Faktor-faktor ini merupakan komponen dalam perkembangan tanah. Pada umumnya batuan kapur/ kwarstik lebih tahan terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonat diperlukan sebagai pendorong dalam pembentukan tanah pada batuan berkapur. Garam-garam yang mudah larut (seperti Na, K, Ca, Mg-Klorida dan sulfat, NaCO3) dan garam alkali yang agak mudah larut ( Ca, Mg ) memiliki karbonat yang akan berpindah bersama air, dan bergantung besarnya air yang dapat mencapai kedalaman tanah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengayaan garam/ kapur pada horison tertentu dan besarnya sangat bervariasi. Karena terdapat perbedaan kelarutan dan mobilitas tersebut maka yang terendapkan lebih dahulu adalah karbonat. Pada kondisi yang ekstrem kerak garam dan kapur dapat terbentuk di permukaan tanah. Dari sini menunjukan bahwa kadar kapur tanah dapat berbeda-beda.

Pengaruh iklim terhadap pembentukan dan perkembangan profil tanah sangat bergantung pada besarnya air yang mampu melewati tanah atau terjadi evaporasi yang besar sehingga air tanah naik dari lapisan tanah dalam ke permukaan tanah. Peristiwa ini berpengaruh terhadap kadar lengas tanah. Besar kecilnya kadar lengas tanah ini bergantung pada daya infiltrasi air ke dalam tanah, kemampuan tanah mengikat air, permeabilitas tanah, dan evaporasi alihan tanah dengan tanaman. Hal tersebut akan mempengaruhi pola vegetasi yang tumbuh.

Tinggi rendahnya kadar kapur dalam tanah berpengaruh terhadap tingkat kesuburan tanah. Sebagai contoh pada tanaman vanili yang dalam pertumbuhannya memerlukan kalsium yang cukup banyak. Kalsium di sini berfungsi sebagai pengikat daya serap akar terhadap zat-zat hara sehingga dalam pemilihan tanah untuk budidaya vanili harus memperhatikan keadaan kalsium yang terkandung dalam tanah.

Tanah berkapur dengan sifat basa yang tinggi sangat berkebalikan dengan tanah yang kaya akan bahan organik. Bahan organik memiliki sifat asam yang sangat tinggi sehingga kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Kalau kedu hal ini dipadukan maka hasilnya akan saling melengkapi kekurngan kedua jenis tanah tersebut. Tanah akan menjadi kaya bahan mineral dan ber pH netral yang baik untuk pertanaman.

Tanah ultisol memiliki kadar kapur dan bahan organik cukup tinggi sehingga kecenderungan lebih subur daripada keempat tanah yang lain. Mg da Ca sangat diperlukan tanaman untuk menguatkan batang.

Kadar Kapur jenis tanah dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah Alfisol, Entisol, Vertisol, Rendzina dan Ultisol. Tanah Entisol tidak berbahan induk kapur seperti karsit, dolomit dan lain-lain sehingga kadar kapur dalam tanah tidak begitu tinggi. Biasanya tanah Entisol memiliki bahan induk abu vulkanik dan batuan sediment dan pasir.

Tanah Alfisol berbahan induk yang kaya akan kapur dan mengandung konkresi kapur dan besi. Dalam pembentukan tanah larutan-larutan besi terutama dari sumber-sumber bukan kapur dan sedikit berkapur atau dolomite menyusup ke dalam retakan-retakan dan lubang-lubang batu kapur dalam sehingga Fe bersentuhan dengan Ca yang mengendap.

Tanah Ultisol merupakan tanah yang memiliki kadar kapur terendah baik secara teoritis.Tanah ini meliputi tanah-tanah yang mengalami pelapukan intensif dan perkembangan tanah selanjutnya sehingga terjadi pencucian unsur basa, bahan organik dan silika dengan meninggalkan sesquioksida sebagai sisa berarana merah. Warna tanah terganstung susunan mineralogi bahan induk. Bahan induk ini barasal dari batuan induk vulkanik baik tuff maupun batuan beku.

. Tanah Vertisol berbahan induk kapur dan lempung sehingga kedap air. Selain itu terbatas pada tanah yang bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan alluvial dan abu vulkanik. Warna tanah dipengaruhi oleh kandungan humus dan kapur. Tanah yang kaya akan kapur kebanyakan hitam. Kadar kapur yang tinggi mempengaruhi kejenuhan basa dan KPK tanh tinggi karena banyak menyumbang kation-kation Ca dan Mg. Bentuk kapur adalah berupa kalsium karbonat (CaCO3). Semakin besar nilai perhitungan yang didapatkan maka kandungan kapur dalam tanah juga semakin banyak. Factor-faktor yang menentukan kadar/banyaknya kapur dalam tanah antara lain adalah pH tanah, tekstur tanah, kadar bahan organic tanah, mutu kapur dan jenis tanaman yang hidup. Faktor pH tanah dapat menunjukkan kejenuhan basa dan pH tanah yang rendah, maka kapur juga rendah. Tekstur dan kandungan bahan organic menentukan kapasitas adsorpsi dan besarnya daya penyangga (buffering capacity) dari tanah.

Dari pengalaman penelitian bertahun-tahun baik di luar negeri atau pun di indonesia sendiri diketahui bahwa pemberian kapur ke dalam tanah masam tidak hanya memperbaiki sifat fisika tanah tetapi juga mempengaruhi sifat kimia tanah dan biologi tanah. Kimia tanah, pengaruh kapur yang menonjol trehadap kimia tanah adalah berupa naiknya kadar Ca dan pH tanah, sehingga reaksi tanah mengarah ke netral. Selain itu akan terjadi penurunan kandungan Al yang akan meracuni tanaman. Selain itu juga da pengaruh terhadap biologi tanah meskipun tidak secara langsung kan tetapi dengan naiknya pH tanah dan tersedianya beberapa hara yang diperlukan biologi tanah menyebabkan jasad hidup ini lebih mudah dalam memperoleh energi dan materi dalam jumlah banyak. Sejalan dengan hal itu, populasi dan aktivitas mereka pun meningkat dengan penambahan kapur. Akan tetapi yang paling meninjol dari adalah sifat kapur yang berperan dalam memperbqaiki sifat fisika tanah, dimana agregat akan lebih stabil dan peromabakan bahan organik akan berjaln lebih lancar.

Adapun reaksi penetralan pH tanah oleh kapur (contoh CaCO3) :

Akan tetapi disisi lain jika suatu tanah kandungan kapur terlalu tinggi tanaman yang tumbuh di tanah berkapur kadang-kadang kekurangan Besi, Mangan, Seng, Temabaga, dan Boron. Seharusnya untuk mengatasi hal ini Kalsium Karbonat / Kapur harus dihilangkan, tapi hal ini belum bisa dilakukan, akibatnya tanaman dipupuk dengan unsur-unsur yang ada yang defisiensi atau dilakukan pemilaihan jenis tanaman yang cocok dan dapat beradaptasi pada tanah-tanah alkalin. Hal itu satu-satunya cara praktis yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah dengan kelebiahn kapur.

Dengan mengetahui kandungan kapur dalam tanah maka dapat ditentukan kesuburan tanah yang sangat berpengaruh terhadap pengelolan lahan, sehingga dapat mengoptimalkan potensi lahan untuk budidaya pertanian.

DAFTAR PUSTAKA

Amien, I. , A. Sofyan, dan M. Sudjadi. 1985. Pengaruh pengapuran terhadap beberapa sifat kimia tanah ultisol Banten Jawa Barat. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 4 : 6-10.

Benito, 2001. Kapasitas Pertukaran Kation (KPK). <http://benito.staff.ugm.ac.id/pertukaran%20kation.html.> . Diakses tanggal 25 Oktober 2007.

Buckman, H.O. dan N.C. Brady. 1974. The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Company, New Delhi.

Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Soul, M.A. Diha, G.B. Hong, N.H. Bailey. 1986. Dasar-Dasa Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung.

Kompart, E.J. 1970. Exchange able Aluminium as Creation for Liming Leached Minerals Soils. Soilsci, Soc Amer Proc.

Pearson, R.W.F. Adams, dan R.C. Dinauver. 1967. Soil acidity and liming. Agronomy Monograph, Wicounsin.

Safuan, La Ode. 2005. Pengapuran Tanah. <> >. Diakses pada tanggal 3 November 2007.

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Saduran The Nature and Properties of Soils by Brady. 1983. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Tisdale, S.L., W.L. Nelson, dan J.D. Beacon. 1985. Soils Fertility and Fertilizers. Mac Millan Publishing Company, New York.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar