MERAJUT SELENDANG KARTINI

Masih terngiang di kepala kita, ketika waktu itu dengan semangat nan lantang kita menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini di depan kelas. Dengan menyanyikan lagu seraya mengenakan kebaya khas Ibu Kartini, menggambarkan bahwa kita sangat menyayangi serta menghormati perjuangan beliau. Demikianlah kenangan itu, yang akan terus menjadi tradisi, yang akan berulang dari tahun ke tahun.

Menghormati suatu perjuangan pada hakikatnya bukanlah sekedar memakai busanan tradisi belaka atau hanya menyanyikan lagu tanpa makna, melainkan memahami untuk diterapkan dalam hidup ini. Di akui bahwa cita-cita kartini belum tentu benar, namun bukan hal yang salah ketika perempuan di negri ini lebih terhormat. Perempuan adalah sesuatu yang penting. Tidak ada pribadi yang terbentuk tanpa perempuan. Maka dari itu, ketika bangsa ini mengeyampingkan masalah perempuan, maka ia telah menyingkirkan jati diri bangsa. Bukan karena peranan pria tidak penting, namun karena perempuan adalah calon ibu yang akan membentuk jati diri sang anak. Jati diri untuk mengakui bahwa Akulah anak Indonesia. Sehingga wajar hak perempuan untuk diperjuangkan.

Tetapi apakah emansipasi perempuan benar-benar penting dan dibutuhkan oleh bangsa ini? Bukankah perempuan kini lebih bangga dengan pekerjaannya mencari nafkah ketimbang menyusui anaknya, bukankah perempuan kini lebih bangga bila tubuhnya yang seksi dilihat seluruh kaum adam ketimbang suaminya seorang, bukankah anak-anak kita jaman sekarang dapat bertanya lewat internet dengan google-nya ketimbang kepada sang ibu. Padahal menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Ibu harus berwawasan luas, ibu juga harus pintar menyiasati sesuatu, sehingga posisi ibu merupakan posisi yang memiliki peranan penting dalam keluarga. Apakah kita sadar akan hal itu?

Alangkah indahnya bila semua berada pada posisinya masing-masing. Kata orang, adil bukan berarti menyamaratakan sesuatu, melainkan menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Sehingga bukan berarti posisi istri menggantikan suami lantas suami menjadi sang ibu. Demikian juga dengan konsep kartini, cita-cita kartini tentu tidak serendah itu. Kartini tentu menginginkan perempuan Indonesia mempunyai wawasan yang luas dengan bersekolah. Kartini juga pasti menginginkan derajat wanita menjadi mulia dengan menjadi ibu yang baik. Bukankah selendang Kartini begitu hangat ketika kita memahaminya dengan baik. Lantas, kini apa yang menjadi penghalang kita untuk merajut kembali selendang Ibu Kita Kartini?

{septa}

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar