DIRLY SAHABATKU

Bukan seorang penyanyi, apalagi artis, Dirly, tidak punya nama awal maupun akhir, namanya singkat hanya Dirly.
Tampaknya ingatanku sudah tidak sesegar dulu lagi, ketika waktu itu masih menimba ilmu di pondok pesantren La-Tansa, awal dari kisah menarik yang akan aku jalani. Kehidupan pondok tidak senikmat kehidupan di rumah sendiri. Semua harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Demikian pula untuk kehidupan yang paling pribadi sekalipun. Bagaimana tidak, semua santrinya tidak boleh keluar dari lingkungan pondok. Terlebih semua detik waktu yang didapat, diatur oleh kakak kelas yang menjadi algojo setiap waktu. Kalo ngelawan bisa dihukum habis-habisan.
Suatu hal yang sangat aku syukuri, ketika aku cukup dapat mengatur waktu yang sedemikian padatnya. Banyak sekali kawan-kawan seperjuanganku yang belum bisa mengatur susahnya hidup di pondok. Ketika kesalahanmu terlihat oleh jasus (mata-mata hukum), maka sangat sulit untuk melepakan diri dari jeratan hukum.
Dirly, bukanlah seorang penyanyi, apalagi artis. Dia adalah sahabat yang sangat tidak bisa tergantikan di dunia ini. Dirly berasal dari Lampung. Perawakannya yang lugu, bodoh dan cupu itu tidak bisa aku lupakan. Dia bukanlah orang normal, karena di adalah orang idiot. Orang yang unik, yang sekali lagi sangat tidak bisa tergantikan di dunia ini. Kepintarannya jauh di bawah rata-rata, sungguh aku tidak punya kata-kata lagi untuk menjelaskan kebodohannya, selain banyak sekali hukuman yang pernah ia terima. Bayangkan saja, kakinya bengkak akibat dipukuli kakak kelas, lalu tangannya yang tidak berwarna ungu lagi menghiasi kulitnya. Bajunya lusuh dan bau, karena tidak pernah dicuci. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak mempunyai uang untuk membayar ibu cuci. Keluarganya tidak pernah menjenguknya, setidaknya selama pengamatanku. Dia selalu menjadi bulan-bulanan kakak kelas, tidak hanya itu, teman-teman sekelas juga sering menjahilinya. Dirly, sungguh malang nasibnya.
Entahlah, hanya saja dia orang terpolos yang pernah aku kenal. Walaupun dia idiot, hatinya bagaikan emas murni. Mungkin inilah yang dikatakan orang berhati lembut. Dan kenapa, dari situ rasa simpatiku muncul. Bukan rasa untuk mengasihani, tapi lebih rasa untuk melindungi. Melindungi dari segala bentuk penindasan. Setidaknya hanya itu yang bisa aku lakukan. Kata orang, tidak perlu sebuah alasan untuk berbuat baik. Dia kulindungi seperti adik sendiri. Ketika forum belajar di dalam kelas, aku berusaha mengajarkan pelajaran yang disampaikan sebaik mungkin. Aku berusaha memberikan dorongan agar dia menjadi aktif di kelas. Dan hasilnya sungguh luar biasa. Dia telah menjadi seorang yang berbeda. Aku sangat senang sekali. Detik berganti detik, hari berganti hari dan bulan berganti bulan, tak terasa hampir satu tahun aku di pondok. Dan di luar dugaan, aku telah divonis mengidap penyakit asma dan liver. Kata dokter hepatitis-ku, sudah mencapai tingkat attention. Mau tidak mau, aku harus di rawat inap di kota kelahiranku, Serang. Kini aku harus pulang. Detik-detik terakhir sebelum berangkat, aku berusaha memperhatikan keadaan sekitar. Mencari sesosok yang seharusnya aku lihat, "Dirly, kemana kamu?". Mobil orang tuaku sudah siap untuk menjemputku. Aku masih mencarinya. "Ya Allah, mengapa di kunjung hadir? Padahal aku berharap dia datang kesini untuk mengantar ku." gumamku dalam hati. Aku merasa aku tidak akan pernah kembali lagi kesini. Mungkin aku akan pergi meninggalkan dia selamanya. Aku berharap hanya untuk kali ini saja, please! Beberapa bulan kemudian, kondisiku berangsur membaik. Aku dinyatakan masih mengidap, jadi aku harus kontrol ke dokter sebulan sekali. Sejenak ku terkenang, akan sahabatku Dirly. Aku berharap, suatu saat nanti kita bertemu dan ... entahlah aku sudah putus asa.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar