POTENSI LAIN KACANG KOMAK

Tingkat konsumsi susu sapi di Indonesia masih cukup rendah. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya ketakutan masyarakat Indonesia yaitu ketakutan terkena penyakit diare dan takut bertambah berat badan. Selain itu, harga susu sapi yang relatif mahal juga menyebabkan masyarakat enggan mengkonsumsi susu. Penyakit diare yang terjadi akibat mengkonsumsi susu dapat disebabkan oleh berkurangnya aktivitas enzim laktase di dalam tubuh. Gejala tersebut disebut lactose intolerance. Menurut Astawan (2008) dengan semakin bertambahnya usia, jumlah enzim laktase di dalam tubuh akan semakin berkurang. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang yang telah berusia di atas empat puluh tahun tidak aman lagi untuk minum susu segar dan dianjurkan mengkonsumsi susu olahan.

Kebiasaan minum susu secara teratur sejak dini dapat mencegah kekurangan enzim laktase secara drastis. Kebiasaan minum susu harus terus dipertahankan sejak bayi hingga dewasa, agar di saat lanjut usia aktivitas enzim laktase dapat dipertahankan. Susu kacang-kacangan, seperti susu kedelai, susu kacang hijau, susu kacang tolo merupakan susu yang bebas laktosa, sehingga susu dari kacang-kacangan tersebut seperti susu kedelai dapat menjadi alternative pengganti susu sapi bagi penderita lactose intolerance.

Dewasa ini pemanfaatan susu kedelai sebagai alternatif susu asal ternak mengalami hambatan akibat ketersedian dari dalam negeri dan harga impor bahan bakunya. Departemen Pertanian RI, Ditjen Tanaman Pangan (2008) menyebutkan produksi kedelai tahun 1992 mencapai puncaknya yaitu 1,8 juta ton. Semenjak tahun 1993, produksi kedelai terus menurun, tahun 2003 tinggal 671.600 ton. Pada tahun 2004 sampai dengan 2006 produksi mulai meningkat dengan sangat lambat. Tahun 2007, produksi kedelai turun kembali 20% dari produksi pada tahun 2006 menjadi 608.000 ton. Produktivitas kedelai nasional rata-rata masih rendah, tahun 2007 mencapai 13,07 kuintal/hektar atau 1,3 ton/hektar.

Kenaikan harga kedelai impor mengakibatkan harga produk-produk berbahan dasar kedelai juga mengalami peningkatkan. Susu kedelai merupakan salah satu produk yang terkena dampak kenaikan harga kedelai impor tersebut. Produsen susu terpaksa menaikkan harga produk bahkan membatasi produknya tersebut seperti diungkapkan oleh Cholidatul yang dikutip oleh Departemen Dalam Negeri (2008). Kenaikan harga ini dapat mempengaruhi konsumsi susu di Indonesia karena susu kedelai merupakan alternatif pengganti susu sapi, terutama bagi penderita lactose intolerance. Untuk itulah diperlukan suatu alternative pengganti susu dari kedelai yang nilai gizinya tidak berbeda jauh dengan kedelai.

Golongan kacang-kacangan merupakan salah satu sumber protein yang cukup baik yang belum dimanfaatkan dengan baik. Somaatmadja dan Maesen (1993) dalam Subagio et al (2006) mengatakan bahwa umumnya kacangkacangan mengandung protein antara 18% sampai dengan 25% dari biji. Kacang komak (Lablab purpureus (L.) Sweet) tergolong dalam kacang-kacangan. Kacang komak dapat berperan menurunkan kadar LDL/kolesterol dan sebagai antioksidan. Selain itu, menurut Hartoyo yang dikutip oleh Radar Bogor (2008) produktivitas kacang komak berkisar 6 sampai 10 ton per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan kedelai yang rata-rata hanya 1,3 ton per hektar. Sehingga kacang komak dapat diproduksi di dalam negeri dengan jumlah yang lebih besar daripada kedelai, dan berpotensi untuk menjadi alternatif pengganti kedelai dalam produk olahannya seperti susu.

Sumber pustaka:

Astawan, Made. 2008. Susu Kedelai. http://www.lautanindonesia.com [10 Januari 2010].

Cholidatul, Dewi. 2008. Kenaikan Kedelai Berdampak Terhadap Pengusaha Susu Kedelai. http://www. Depdagri.go.id [10 Januari 2010].

Departemen Pertanian RI. 2008. Press Release Mentan Pada Panen Kedelai. Departemen Pertanian RI. Jakarta.

Hartoyo, Arif. 11 Januari, 2008. Kacang Komak Alternatif Pengganti Kedelai. Radar Bogor, hlm. 9.

Subagio, A et al. 2006. Karakteristik Biji dan Protein Kacang Komak (Lablab purpureus (L.) Sweet) Sebagai Sumber Protein. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, Vol. XVII No.2.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar