PERAN PEMUDA DALAM RALITAS POLITIK INDONESIA

Menjalankan roda pemerintahan mungkin sebagian orang akan menganggap hal tersebut adalah hal yang sulit, hal yang butuh disikapi secara matang oleh seseorang atau sebagian kelompok, sehingga konsep pemegang fungsi-fungsi strategis kebijakan hanya boleh dipegang oleh orang yang sudah tua. Tidak hanya itu, mindset atau pola pikir bahwa pemuda masa untuk seseorang mencari jati diri, masih menjadi faktor utama dalam membatasi ruang gerak pemuda dalam kancah dunia politik. Padahal nasib bangsa ini akan sangat ditentukan oleh kualitas, kompeten dan moralitas pemuda.

Jika kita amati, hal tersebut berdampak pada kondisi dimana pemuda jarang sekali ikut andil dalam membuat kebijakan khususnya di negara Indonesia. Hal tersebut terkait dengan persoalan secara struktural (pemuda dimarjinalkan), persoalan lainnya adalah mengenai kultural yakni cara pikir pemuda yang masih bergantung kepada yang tua (patronase). Patronase sendiri tentunya akan menimbulkan sifat manja pada diri pemuda. Untuk menuju kedewasaan yang hakikilah tentunya para pemuda harus meninggalkan sifat tersebut.

Banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita muda. Karena pada umumnya masa muda adalah masa dimana kondisi fisik kuat dan prima. Hal demikianlah yang menjadikan pertimbangan pemuda dapat beraktifitas lebih daripada yang tua. Maka berdasarkan aktifitasnya, dapat dikelompokkan menjadi hal representasi dan aktualisasi.

Menjadi penerus bangsa merupakan tanggung jawab yang besar. Tentunya kita akan menemui banyak kendala. Ketika pemuda memang belum bisa masuk ke dalam lingkaran inti, maka bangunlah kepercayaan itu. Terkadang masalah teknis jarang bisa dikuasai oleh pemuda. Sifat kritis yang tidak diimbangi kemampuan yang bersifat teknis akan menjadikan sikap yang sia-sia belaka. Sehingga kompetensi teknis dan moralitas perlu dibangun pada diri pemuda.

Masalah kesenioritasan pun dapat ditemukan kental pada organisasi yang didirikan pemuda. Sudut pandang bahwa umur menjadi patokan kedewasaan seseorang masih saja tertanam pada diri pemuda sendiri. Padahal sikap dan sifat dewasa terkadang dapat timbul bukan dari umur melainkan dari kondisi lingkungan. Seharusnya pada organisasi kepemudaan dibentuk regresi kepemimpinan. Adalah solusi yang paling tepat untuk masalah kesenioritasan di organisasi pemuda.

Secara umum solusi yang dapat diberikan untuk masalah ini adalah:

  • Kompetensi teknis dan moralitas perlu dibangun

  • Meruntuhkan budaya patronase

  • Regresi kepemimpinan dalam organisasi pemuda

Sehingga harapannya pemuda akan memiliki kemampuan manajerial yang baik, dapat mengelola konflik dan dapat bekerja sama dengan orang lain, khususnya dengan para orang tua. Tentu saja karena fungsi orang tua pun tidak dapat kita singkirkan begitu saja. Karena pada umumnya orang tua jauh mempunyai banyak pengalaman dari pada pemuda.

1 komentar:

infogue mengatakan...

artikel anda :

http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/peran_pemuda_dalam_ralitas_politik_indonesia

promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar