BEBAN atau HARAPAN

Indonesia, sebuah bangsa yang bukan tidak punya suatu realitas sejarah yang rumit. Bangsa yang selalu mencari kebenaran yang hakiki akan pengembalian maknanya. Sehingga bukan hal yang mustahil terjadi mengingat begitu banyak peranan yang telah diambil penguasa untuk menaruh kepentingannya dalam sejarah. Demikianlah kenapa kita tidak pernah tahu alasannya menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam ritual upacara bendera setiap hari Senin.

Ada hal yang menarik ketika kita menggali sejarah bangsa ini, bahwa apakah hal yang telah kita lewati tersebut adalah kenyataan atau sebuah gambaran belaka. Yang sengaja diciptakan para penguasa yang katanya sebagian dari mereka adalah preman pasar. Padahal kini kondisinya kian memburuk. Apakah yang salah? Apakah dari sistem negara atau mental “gak becus” manusia Indonesia yang telah diciptakan sejarah nasional. Patut disayangkan melihat masalah bangsa yang seharusnya secara tepat dan cepat diselesaikan malah ditinggalkan begitu saja. Bukankah kita adalah pemuda sebagai generasi penerus?

Suatu hal yang bisa tatkala pergeseran budaya terjadi. Begitu pula pergeseran rasa perjuangan yang telah bergeser drastis dari pemuda zaman dahulu (pra kemerdekaan) dengan pemuda sekarang (pasca kemerdekaan). Tidak ada yang salah memang jika hal tersebut tidak membuat bangsa terpuruk. Kenyataan yang harus dipahami bahwa hal demikian malah membuat bangsa ini kehilangan jati dirinya. Seperti halnya membiarkaan kebudayaan bangsa Indonesia terkikis perlahan oleh kebudayaan barat. Sekali lagi, faktor sistemkah atau politic mass kah yang menyebabkan demikian?

Kini faktor-faktor “X” tersebut bukan hal yang seharusnya diributkan. Sejatinya sebagai pemuda dapat belajar dari yang tua. Bukan berarti lantas meneladani segala tindak-tanduk seringainya, melainkan dapat memahami segala bentuk kondisi yang terjadi pada bangsa. Bangsa tidak selalu membutuhkan suatu tuntutan atau kritisan kosong pemuda, namun lebih kepada suatu kontribusi nyata oleh pemuda.

Sejarah bangsa seharusnya menjadi motivasi bagi kita semua. Bukan berarti kita harus pada posisi netral, tidak berkepentingan, lantas tidak peduli dengan apa yang terjadi. Mata hati kitalah yang seharusnya terbuka. Indonesia tengah menghadapi globalisasi. Disaat kebudayaan baratnisasi menderma Indonesia, bukan hal yang baik kita malah menutup mata. Pemuda Indonesia harus bangkit dari keterpurukan dan kehinaan. Dengan mengubah mindset daya pikir sekarang juga, setidaknya bangsa ini sudah selangkah lebih maju. Tinggal 99 langkah lagi yang harus kita lalui.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar